Apakah sebab dari kedipan matamu yang membuat banyak hati lemah tak berdaya?
Mungkin karena keduanya adalah pusat keindahan,yang tak bisa dijelaskan oleh kata—hanya bisa dirasa.
Setengah jam memandangmu, cukup membuatku bersumpah: wajahmu adalah rumah tempat kedamaian bersemayam tanpa batas.
Aku menyiapkan satu hidup penuh luka untuk takdir yang mungkin berkata: “Dia bukan milikmu.” Namun, aku tetap menulis tentangmu, tentang mata yang meneduhkan, dan senyummu yang tak terlihat namun terasa sampai ke dada yang paling sunyi.
Kehadiranmu seperti pelipur luka purba, yang kusembunyikan selama usia. Dan aku berharap, ada seseorang yang jatuh cinta pada tokoh dalam bait-bait puisiku, lalu ingin menjadi bunga yang mekar di taman hatiku.
