Di antara pelajaran yang kuperoleh dari kehidupan sosial manusia sepanjang hidupku dan hasil dari berbagai penelitianku adalah bahwa hal yang paling layak untuk dicintai adalah cinta itu sendiri, dan yang paling layak untuk dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri. Dengan kata lain, sifat cinta yang memberikan rasa aman dan mewujudkan kebahagiaan dalam kehidupan sosial manusia adalah yang paling layak untuk dicintai. Sebaliknya, permusuhan dan kebencian yang menjungkirbalikkan kehidupan sosial adalah sifat buruk dan berbahaya yang paling layak untuk dimusuhi dan dijauhi. Karena hakikat ini telah kami jelaskan dalam Surat Kedua Puluh Dua (Risalah Ukhuwah), maka di sini hanya akan disebutkan secara ringkas:

Masa permusuhan dan pertikaian telah berakhir. Perang Dunia Pertama dan Kedua telah memperlihatkan betapa besar kezhaliman dan kehancuran akibat permusuhan. Jelas bahwa permusuhan tidak memberikan manfaat sama sekali. Maka dari itu, keburukan dan kesalahan musuh tidak semestinya membuat kita memusuhi mereka selama tidak melampaui batas. Cukuplah bagi mereka azab Ilahi dan api neraka (sebagai balasannya).
Kesombongan manusia dan kecintaan terhadap diri terkadang secara zalim dan tanpa sadar mengantarnya kepada sikap memusuhi saudara seiman sehingga seseorang menganggap dirinya benar. Padahal, sikap permusuhan seperti ini termasuk sikap meremehkan sejumlah ikatan dan sebab yang menyatukan antar sesama mukmin seperti ikatan keimanan, keislaman dan kemanusiaan. Hal tersebut menyerupai sikap bodoh orang yang mengedepankan faktor-faktor permusuhan yang sepele, seperti kerikil, ketimbang faktor-faktor cinta dan kasih sayang yang sebesar gunung yang kokoh.
Badiuzzaman Said Nursi, *Khutbah Syamiyah*, hlm. 51-52